sederhana namun menyentuh hatiku.
ketika kami sedang berada di malem jumat agung, di puncak dengan hujan petir (baca sbelum"nya) dan sedang desperate karena ga dapet tmpat penginapan, dan sdg di persimpangan jalan utk segera pulang ke rumah, kami memutuskan utk singgah dan makan di KFC. jauh" ke puncak cuma buat makan KFC XD
nah krn disitu ujan, maka ada bbrp anak" kecil dgn payung nya bersedia menawarkan jasa naungannya di malam yang dingin dan basah. aku pun ikut sama 1 anak kecil yg bajunya merah.
lalu disana, ketika sedang makan ayam, aku ngeliatin anak" pembawa payung yg lagi nungguin org" makan, sementara mereka menggenggam payungnya dan menatap ke dalam, bersama hujan.
tatapannya begitu membuatku terharu, sehingga terlintas ide dalam benakku: aku akan memberikan ayam yang lagi kumakan buat mereka. tapi, mereka? hanya sisa? sedikit saja? ah mereka pasti mengerti, dan akan memakannya dengan lahap.
tapi, is it worth?
aku pun, yang saat itu tidak bermodal banyak, mengutarakan perasaanku itu pada mami. mami menoleh kepada mereka, dan membicarakannya pada papi.
papi pun juga menoleh pada mereka.
"tapi kan mereka banyak mam."
akhirnya mami hanya diam sambil menikmati makannya.
tapi aku merasa ini tak boleh didiamkan! aku terus memperhatikan mereka, dan akhirnya terlintas di pikiranku, 'kenapa ga cream soup aja?'
akhirnya aku cepat menghabiskan makananku dengan pergumulan dalam hatiku.
setelah mencuci tangan, aku segera berkata pada mami yg sdg menunggu giliran ke toilet "mam, kasih cream soup aja. kan murah, cuma goceng"
mamiku kaget, karena mami pikir niatku sudah terkubur.
"oh ya udah boleh. kamu hitung dulu mereka ada berapa. terus pesen deh"
saat itu hatiku bergumul. seperti ada yang menahanku untuk tidak melakukannya, mungkin karena gengsiku.
namun saat itu aku segera keluar dan bertanya pada anak berbaju merah "kalian semua ada berapa?"
anak itu menatapku dengan mata berbinar. ia menyuruh seorang anak lain di sebelahnya yang juga menatapku untuk menghitung berapa jumlah mereka.
aku pun masuk lagi ke dalam, berpapasan dengan mami yang menatapku dengan pandangan banyak arti.
'berapa gab?'
'katanya 8'
'oke, berarti pesan cream soup 8 biji'
aku pun mulai ikut ke meja kasir untuk menunggu petugasnya melayani kami.
saat kami mulai dilayani, mami memesan beberapa hal lain dulu seperti es krim monas yang dipesan adik"ku. hatiku berdebar, aneh. aku makin gelisah. seperti ingin menyerah dan berkata tidak jadi saja dan selesai sudah. namun aku melihat lagi ke luar hujan, dimana makin banyak anak yang berkumpul di luar, seperti telah mengetahui bahwa mereka aka mendapat sesuatu. mereka tidak lagi menunggu orang yang akan keluar, mereka menungguku. mereka menatapku.
aku pun mulai disodorkan es krim monas vanilla oleh daniel, namun aku menolaknya. hatiku terlalu bergumul untuk sekedar beristirahat dan menikmati seraup es krim. kegelisahan mulai terpancar di wajahku.
akhirnya mami pun memesan 8 cream soup. di tempat pemanasan ayam, aku melihat disitu ada 8 cream soup. pas sekali.
ia mengambilnya satu per satu, sementara mami mulai berkata "kamu duduk aja. nanti biar petugasnya yang kasih ke mereka"
"kalo aku aja yang ngasih gimana mam?"
mamiku tersenyum "apa bedanya?" seolah berpikir bahwa aku akan mencari nama di depan mereka sebagai anak gadis yang memberikan cream soup pada mereka yang butuh kehangatan.
nggak, mam.
"supaya aku bisa kasih tau kalo itu semua dari Yesus" mamiku terdiam.
ini memang malam jumat agung, dimana Yesus telah mati karena kasihNya untuk kita semua, tidak terkecuali para anak-anak ini.
setelah pesanan siap, aku segera menatang baki nya keluar pintu sementara mamiku sedang membayar cream soup nya.
aku langsung kasih ke anak baju merah yang udah ngulurin tangannya sejak tadi, sudah tahu akan diberi sesuatu.
'ini buat kalian'
'makasih ya' matanya menatap cream soupnya.
'ini dari Tuhan Yesus'
'iya'
segera setelah percakapan itu berakhir, anak tersebut dikelilingi oleh anak" lain dan segera membuka hidangan panasnya di luar ruangan.
aku membuang muka.
ketika aku berbalik ke kasir dimana mami masih menunggu, aku tak dapat membendung air mataku lagi. mamiku yang belum sadar kalo aku menangis mulai berkata 'seharusnya mereka juga layak buat duduk di dalem sini.' tapi aku sudah tidak memperhatikan. aku menangis.
mamiku gusar dan bertanya "kenapa kamu nangis?"
aku ga bisa jawab. aku senang sekali dan segera menuju toilet.
keluar dari toilet, papi dan adik"ku menatapku dengan cara yang tidak biasa. aku pun langsung duduk di salah satu tempat duduk dan bersikap seperti biasa, sambil menatap keluar ketika hujan sudah mereda, menghangat karena keceriaan anak-anak pemegang payung yang sedang memainkan sendok dan wadah bekas makan cream soup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar