i love Jesus because He loves me that much.

19 Feb 2011

tugas BI, resensi novel anak kelas 12

Mengintip Berkah di Balik Masalah
Judul Buku: Lost & Found
Pengarang: Kartika Julita
Penerbit: -
Tebal Buku: 156 halaman

                Sebagai penulis yang menciptakan novel pertamanya pada usia belia, Kartika Julita berhasil menciptakan nuansa yang berbeda dalam karya buatannya. Genre yang dipilih Kartika untuk melukiskan ekspresinya dibuat cenderung ke arah roman, yang mengangkat cerita tentang kehidupan seorang gadis remaja dengan kehidupan sehari-harinya. Meskipun tema yang diangkat tergolong sering dijumpai pada kebanyakan buku novel remaja yang ada, namun Kartika dapat menampilkannya dengan gaya yang berbeda. Dibanding seluruh teman-teman sekelasnya yang membuat novel dalam tugas yang sama, ia memiliki kekuatan yang lebih pada novelnya, yang biasanya dapat menarik pembaca dalam maksud yang hendak disampaikan penulis, yakni pendeskripsian latar suasana dan tempat yang mendetail dalam cerita, seperti pada novel Somewhere, Home, karya Nada Awar Jarrar.
            Buku ini menceritakan tentang Vero, seorang gadis remaja yang hanya tinggal bersama Rose, ibu angkatnya dan Sean, anak tetangga yang terlantar. Ia cantik dan pintar, sehingga memiliki banyak ‘penggemar’ yang selalu memuji-muji kecantikan dan kepintarannya. Namun Vero jenuh akan semua hal itu. Sampai suatu ketika, ia menjumpai Josh, dosen muda yang tampan, dan memiliki persamaan dengan Vero: jenuh dengan pujian-pujian para penggemarnya. Singkat cerita, kedua insan tersebut saling jatuh cinta. Sam, pengantar pizza yang merupakan teman Vero, sebenarnya tidak suka dengan hubungan mereka dan mencium kecurigaan dalam sosok Josh yang misterius itu. Ternyata Josh dipergoki sedang berciuman dengan istrinya yang dipilih orangtuanya. Di tengah kehancuran hati Vero, ia juga mulai mengetahui rahasia kelam hidupnya, bahwa ayah kandungnya membuang Vero namun ingin bertemu dengannya kembali. Mulanya Vero enggan karena sakit hati mengetahui kenyataan pahit hidupnya karena dirusak ayahnya. Di tengah kegalauan hidupnya, Sam selalu ada untuk memberikan kata-kata bijak yang menyejukkan hati. Bahkan ketika Rose, satu-satunya ibu yang dikasihaninya, meninggal dalam kecelakaan karena berusaha menyelamatkan Vero dari tabrakan truk, Sam selalu bisa menenangkan hati Vero. Lalu hidupnya berubah ketika membaca surat dari Rose sebelum meninggal. Hal itu menyadarkan dirinya untuk tidak larut dalam masalah yang terjadi, dan melihat berkah lain di balik semuanya itu. Ia pun memutuskan untuk menemui ayahnya, Herman, dan adiknya, Gendis, di Indonesia. Ia baru menyadari bahwa sebenarnya ada keluarga sejati yang selalu menyayanginya, dan Sam, yang selalu mencintainya.
            Kartika menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan yang cukup baik dalam setiap diksi, namun juga menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dicerna dan dipahami pembaca. Selain itu, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, ia mendeskripsikan tiap suasana dan latar tempat dengan jelas dan bermakna konotasi, sehingga menarik ketertarikkan pembaca untuk melukiskan keindahannya kembali dalam benaknya yang menjelajah tanpa batas. Ada lagi kelebihan dari novel ini, yaitu penulis dapat menampilkan sebuah budaya sehari-hari orang New York, seakan-akan penulis tinggal di tempat itu dan mengenal budayanya. Padahal Kartika adalah orang Indonesia. Kemudian, banyak informasi dalam cerita yang tidak langsung diberitahukan penulis begitu saja pada awalnya seperti penulisan berita, sehingga tidak membuat pembaca sudah tahu semua dan menjadi bosan. Tetapi penulis menyembunyikan beberapa fakta penting untuk diberitahukan setelahnya, agar pembaca mulai mengerutkan kening dan menerka apa yang terjadi kemudian. Setelah itu dengan cerdiknya, hipotesis pembaca dipatahkan dengan fakta sebenarnya yang disimpan penulis untuk mengejutkan pembaca. Misalnya, ketika Sam berkata bahwa ia sedang mengalami ujian yang sangat sulit. Vero dan kita semua akan berpikir bahwa ia sedang menghadapi ujian sekolah atau hal lain semacam itu. Ternyata Sam melewati ‘ujian’ hidup, yaitu berjuang melawan kanker darah. Lalu pada bab terakhir, ketika tidak ada yang tahu kelanjutan dari nasib Sam, penulis menggambarkan situasi ketika Vero sedang mengunjungi sebuah makam setelah satu tahun berlalu. Kita akan berpikir bahwa itu adalah makam Sam yang mati karena terkena kanker darah, namun ternyata itu adalah makam Rose. Hal itu ditunjukan ketika tiba-tiba Sam mendatanginya dan memeluknya dari belakang.
            Perwajahan buku yang di desain penulis sedikit berbeda dengan isi bukunya yang memikat pembaca untuk menghayati per lembar yang sedang dibacanya, penasaran tentang rahasia spektakuler yang menunggu di lembar berikutnya, dengan tidak meninggalkan bekas yang mendalam pada lembar sebelumnya. Ketika melihat sampul depannya, mungkin beberapa orang berpikir bahwa bagian dalamnya akan kurang menarik untuk dibaca, jika tidak disarankan oleh orang lain yang telah membacanya. Lagipula judul dan sinopsis yang tertera di bagian sampul kurang bisa dibaca karena tertutup oleh background yang ada. Selain perwajahan buku, ada beberapa pengetikan yang salah dalam isi buku, seperti ‘meringis’ menjadi ‘meringgis’, atau ‘jadi’ menjadi ‘ja [enter] di’.
            Namun hal itu dapat diselesaikan dengan sebuah peribahasa yang mengatakan, “Jangan menilai buku dari sampul depannya”. Buku ini memiliki margin dan pengetikkan yang rapi dan teratur di setiap lembarnya; tidak terlalu ke kiri maupun terlalu ke kanan, sehingga mudah dibaca. Lalu, pengorganisasian antar babnya sudah cukup baik. Penulis tahu kapan harus mengakhiri sebuah adegan dan menggantinya dengan kejadian di tempat lain, pada bab berikutnya.
            Penulis mengangkat tema yang cukup menarik untuk dinikmati oleh pembaca. Alur yang digunakan terus maju, namun ada beberapa adegan ketika tokoh menceritakan masa lalunya, sehingga pembaca seperti tertarik lagi ke belakang untuk mengamati fakta baru yang disuguhkan penulis dengan mengagumkan. Amanat yang hendak disampaikan pembaca juga memiliki arti yang mendalam dan mengena di hati, karena makna tersebut merupakan masalah yang sering dialami kebanyakan orang, yaitu tidak melihat kehendak Tuhan yang ingin digenapi dalam kehidupan seseorang, dan lebih melihat masalah-masalah berat yang dihadapi, serta menjadi hancur karenanya. Novel ini juga menyangkut nilai moral yang murni dan tulus, yang dimiliki oleh Sam. Ia selalu ada di sisi Vero, baik sedih maupun senang, dan selalu pada saat genting dan ketika Vero sungguh membutuhkan seseorang untuk menjadi pegangannya saat lututnya sudah tak sanggup menahan badannya sendiri. Lalu, Sam selalu tidak mau menyusahkan orang lain, khususnya Vero. Hal ini terlihat saat ia tak mau menceritakan masalah hidupnya dan lebih mau mendengarkan masalah Vero yang sedang digumuli serta memecahkan masalahnya dengan bijak.

Dibandingkan dengan novel-novel buatan amatir lainnya, novel ini sangat direkomendasikan untuk kalian pilih, baca dan resapi.
Sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar