i love Jesus because He loves me that much.

20 Feb 2011

novel script2

langit hitam pekat memenuhi angkasa raya. bulan menyembunyikan sosoknya di balik awan-awan tebal, kedinginan terkena hembusan angin dingin yang menusuk. lampu jalanan yang menjadi satu-satunya penerangan di perumahan kecil itu sudah diredupkan sejak 2 jam yang lalu. sunyi, dingin, gelap, mengurungkan niat kebanyakan penghuni kompleks untuk keluar rumah, dan lebih memilih tergulung manis di balik selimut mereka. di halaman depan sebuah rumah yang tua namun antik, terdapat sekelebat bayangan. lebih gelap dari gelap itu sendiri. sebuah siluet yang bergerak perlahan menuju ke dalam rumah, menembus kegelapan malam.
jessi berjinjit menuju ke depan pintu yang terkunci rapat. dalam diam, ia melepaskan jepit rambut khususnya dan memasukkannya ke dalam lobang pintu. setelah menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan, pintu itu berdecit.
terbuka.
ia mengintip ke dalam rumah yang dikuasai gelap itu, namun matanya seperti terbiasa menantang warna malam tersebut. ia perlahan memasukkan badannya yang ramping berbalut baju kulit hitam yang kesat dan ketat ke dalam rumah tersebut. ronde pertama, selesai, batinnya.
ia mulai mengeluarkan sebuah alat kecil dan menyalakannya. monitor menunjukkan banyak garis-garis merah tak beraturan yang terhampar dari ujung ke ujung monitornya.
koordinat (15,37). persis di depan dimana ia berpijak. setelah mengamati monitor itu dari berbagai sisi dan menganalisanya menggunakan tangan kecilnya, ia mengangguk mantap. masih bisa dilewati, hiburnya dalam hati.
dengan sekejap mata, ia bersalto dan berputar-putar secara akrobatis di sebuah ruangan yang lenggang dan terlihat aman. setelah meliuk-liuk menghindari sinar laser tak kasat mata sesuai petunjuk alatnya, ia berpijak di lantai marmer dengan pose balet yang mengagumkan. ia tersenyum, bukan saatnya menampilkan kehebatannya menari. ia merogoh sakunya dan mengambil selembar kertas yang kusam karena dilipat-lipat, kemudian membukanya serta mulai memahami isinya.
menurut peta, ruang kerja Mr. Wilson di........
ia mengernyitkan dahi sambil mencari ikon kecil di kertas tersebut dengan telunjuknya.
sini! ucapnya dalam hati sambil menunjuk sebuah gambar persegi dengan kode-kode tulisan yang tidak dimengerti orang awam. ia pun mulai mencari lantai dua, sesuai pada peta. setelah beberapa saat, ia menuju ke ruang dapur. siapa tahu tangga ke lantai dua nya ada disana.
ternyata ia salah.
sebentuk kitchen set yang elegan terpapar disana dan terkesan nyaman. ia membuka nampan biru muda yang menudungi sesuatu. ah, ada sisa makaroni keju. namun ia terpaksa menahan laparnya dan tangannya yang mulai bergetar karena protes.
bahkan ini pun bisa menjadi jebakan. kau tahu bagaimana Mr. Wilson, batinnya seakan peringatan itu diarahkan pada perut rata dan tangan kanannya.
setelah lelah mencari-cari setiap petunjuk di seluruh sudut ruangan yang sungguh tertata rapi dan sempurna itu, akhirnya ia menemukan sebuah kejanggalan. terdapat 2 buah tali kecil yang menempel pada lampu penerangan.
kalau tali yang pertama ini untuk menyalakan lampu, lalu untuk apakah gerangan tali yang satu lagi? pikirnya penasaran sambil menarik tali itu perlahan.
dengan segera, sebentuk tangga besi muncul dari bawah lantai, berputar-putar menuju atas tanpa suara hingga terhubung dengan lantai atas, yang bahkan sejak awal keberadaannya tidak ditemukan. ia melongo.
ketat juga penjagaannya, batinnya sambil memanjati tangga tersebut dengan beberapa gerakan cekatan.
setelah ia sampai di lantai kedua, ia mengeluarkan kacamata khusus pengelihatan pada malam hari dari pocket serbagunanya serta mengenakannya. intensitas cahaya di lantai dua jauh berkurang dibanding di bawah. ia mengerjap-ngerjapkan bulu mata lentiknya, dan melihat sekeliling. ruangan koridor sempit itu jadi kelihatan sangat jelas. kenapa tidak dari tadi saja aku menggunakannya, dasar sok jagoan! rutuknya sambil mengelus lengannya yang terbentur benda-benda selama mencari tangga tadi dengan muka meringis.
jessi mulai mengendap-endap menuju ke arah utara, ke sebuah pintu kayu jati yang terletak di paling ujung dari koridor tersebut. tidak ada sinar cahaya yang mencuat dari sela-sela pintu, menandakan bahwa orang di dalamnya sudah tidak beraktivitas lagi. ketika ia sampai di depan pintu tersebut, ia menekan kepalanya pada pintu untuk mendengar suara di baliknya dengan menggunakan earphone khusus berfrekuensi sangat rendah.
negatif.
ia pun mundur perlahan dan mengeluarkan satu benda lagi dari pocketnya. soft lens. dengan cepat ia menempelkannya pada sebelah mata birunya, mendekatkan matanya ke lubang kecil pada pintu yang biasanya digunakan penghuni ruangan untuk melihat siapa orang di balik pintu. namun lubang ini berfungsi lain, yaitu mengeluarkan sensor untuk mendeteksi mata berbingkai soft lens milik departemen resmu jessi. tak lama kemudian, lampu hijau menyala di bawah lubang tersebut. ia mendesah lega.
jessi mulai memutar kenop pintudengan sangat pelan, dan dengan gerakan sangat cepat ia masuk ke ruangan gelap yang baru, serta menutup lagi pintunya. berhasil. tak ada suara apapun yang dihasilkan. ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
ruangan ini sungguh aneh. seluruh lantainya dilingkupi karpet merah, dengan pendingin ruangan yang di set super dingin, dan hanya ada satu meja kerja di tengah ruangan tergeletak misterius disana.
ini aneh, jika mengingat tentang ruangan-ruangan sebelumnya yang memiliki kualitas desain interior yang sangat mewah, sementara di tempat ini terlihat sungguh janggal. lalu kebiasaan Mr. Wilson dari kecil yang tidak bisa terkena hawa dingin.
ada yang tidak beres.
dimana Mr. Wilson?
jessi melemparkan pandangannya ke jendela besar yang mengarah pada kebun belakang rumah. dari sana ia dapat melihat bulan purnama menggantung rendah di langit hitam. sepertinya bulan mulai merasa hangat. ditambah dengan pemandangan kebun kecil yang asri di bawah langit yang diam, pemandangannya sungguh indah.
ia menggeleng kepalanya cepat. ayo fokus pada pekerjaan!
ia mengedarkan pandangan sekali lagi dengan seksama. tidak ada celah, tidak ada katup, maupun pintu lagi.
dengan nekat, ia mulai mendekati meja kerja yang diduga milik Mr. Wilson itu, untuk mengamati berkas-berkasnya.
cklek!
dengan sekejap mata, lampu utama menyala. jessi terperanjat.
jantungnya berdegup kencang, seperti ingin copot rasanya. dengan pucat, ia berbalik dan mendapati sesosok tubuh tua namun tegap dan raut muka yang tegas dan keras, sedang menodongnya dengan revolver pada tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegangi saklar lampu. ibu jarinya sudah bersiap menarik pelatuk revolver kedap suara itu jika aku bertindak macam-macam. Mr. Wilson.
aku meliriknya takut dan bergidik ngeri.
'mencari sesuatu?'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar